Mahasiswa PBI UMRAH Bagikan Pengalaman Berharga dari Program Pertukaran Pemuda Antar Provinsi

TANJUNGPINANG – Wahyudi Agustian, mahasiswa semester 7 dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), berbagi kisah inspiratif setelah menyelesaikan Program Pertukaran Pemuda Antar Provinsi (PPAP) 2025.  Program ini diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) bekerja sama dengan Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Kepulauan Riau, sebagai wadah strategis untuk membentuk generasi muda yang berdaya saing, berjiwa kepemimpinan, dan siap berkontribusi langsung dalam pembangunan masyarakat lintas daerah.

Bagi Wahyudi, PPAP bukan sekadar program pertukaran, melainkan pembelajaran sosial yang mendalam. “Secara umum mirip dengan KKN, tapi fokusnya lebih spesifik pada pengembangan pemuda sebagai agent of change,” ujarnya.

Proses seleksi yang dilaluinya cukup ketat dan berlapis. Di Provinsi Kepulauan Riau, seleksi dilakukan langsung di tingkat provinsi tanpa tahap kabupaten/kota. Sekitar 30 peserta mengikuti rangkaian tes, termasuk tes sejarah daerah asal provinsi, tes tertulis Bahasa Inggris, tes wawasan kebangsaan, wawancara Bahasa Inggris, uji bakat, tes psikologi, hingga wawancara mendalam terkait gagasan program yang akan dikembangkan jika terpilih. Seleksi ini tidak hanya menguji kemampuan akademik, tapi juga karakter, kepemimpinan, dan visi sosial peserta. 

Setelah dinyatakan lolos, Wahyudi ditempatkan di Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah. Di sana, ia bersama peserta dari berbagai provinsi melakukan observasi sosial dan pemetaan potensi desa, mengimplementasikan program kepemudaan berbasis kebutuhan masyarakat, berkolaborasi dengan pemuda lokal serta perangkat desa, serta mengikuti kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Ia juga diperkenalkan langsung dengan budaya, adat istiadat, dan kearifan lokal melalui diskusi, refleksi program, serta penguatan kapasitas kepemudaan.

Pengalaman paling berkesan baginya adalah bertemu pemuda terbaik dari seluruh Indonesia. “Mereka datang dari latar belakang beragam, ada yang sudah berprofesi sebagai guru, dosen, aktivis kepemudaan, hingga profesional. Tetapi semuanya punya semangat yang sama untuk berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa,” tuturnya.

Wahyudi bersyukur bisa mengikuti PPAP saat masih berstatus mahasiswa. Baginya, program ini membuka wawasan bahwa kontribusi pemuda tidak ditentukan oleh status atau jabatan, melainkan oleh inisiatif dan kepedulian sosial. Salah satu momen tak terlupakan adalah ketika gagasan program yang ia susun saat seleksi provinsi berhasil diimplementasikan di desa penempatan yang bahkan dua program sukses dijalankan dan memberikan dampak positif nyata bagi masyarakat setempat.

“Dari situ saya belajar bahwa ide sederhana, jika dirancang dengan baik dan berbasis kebutuhan masyarakat, maka mampu menjadi solusi yang bermakna,” tambahnya.

Sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi dan kontribusinya, Wahyudi dinobatkan sebagai Duta Pemuda Indonesia 2025 Provinsi Kepulauan Riau. Penghargaan ini menjadi kehormatan sekaligus tanggung jawab besar baginya untuk terus menjadi teladan dan menginspirasi pemuda lainnya di Kepulauan Riau.

Kisah Wahyudi menunjukkan bahwa dengan keberanian, inisiatif, dan mentalitas yang positif, pemuda dapat meraih pengalaman berharga serta membawa perubahan nyata. Pengalamannya ditutup dengan pesan mendalam.

“Pemuda bukan hanya objek pembangunan, melainkan subjek dan penggerak perubahan. Mulai dari inisiatif kecil dan kepedulian terhadap sekitar, jangan tunggu jabatan tinggi, mulai saja dari sekarang,” pungkasnya.

-Syakira-

Artikel Lainnya